Minggu, 18 April 2021

Mencicipi Makanan Ketika Puasa



Diperbolehkan bagi orang yang puasa, baik lelaki maupun wanita, untuk mencicipi makanan jika ada kebutuhan. Bentuknya bisa dengan meletakkan makanan di ujung lidahnya, dirasakan, kemudian dikeluarkan, dan tidak ditelan sedikit pun. Di antara dalil yang menunjukkan hal ini adalah perkataan Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu,


لَا بَأسَ أَن يَذُوق الخَلَّ أو الشَيءَ مَا لَـم يَدخُل حَلقَه وهو صائم. رواه البخاري معلقا

“Tidak mengapa mencicipi cuka atau makanan lainnya selama tidak masuk ke kerongkongan.” (H.r. Bukhari secara mu’allaq)

Jika orang yang puasa menelan makanan yang dicicipi karena tidak sengaja maka dia tidak wajib qadha, dan dia lanjutkan puasanya. Ini berdasarkan keumuman dalil yang menunjukkan dimaafkannya orang yang lupa dalam pelaksanaan syariat. Di samping itu terdapat sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

من نسي وهو صائم ، فأكل أو شرب فليتم صومه ، فإنما أطعمه الله وسقاه “. متفق عليه

“Siapa saja yang lupa ketika puasa kemudian makan atau minum maka hendaknya dia sempurnakan puasanya, karena Allah telah memberinya makan atau minum.” (H.r. Bukhari dan Muslim) (Sumber: www.islamqa.com)


Hukum puasa menjadi haram tetapi sah, akibat???....

 


Ibadah puasa menjadi haram, tetapi puasanya dianggap sah dan tudak dah  berbagai hal :

• 1. Berhukum haram namun puasanya dianggap sah, adalah puasanya seorang isteri tanpa idzin dari suaminya.

• 2. Berhukum haram dan dianggap tidak sah puasanya, terdapat pada lima contoh :

1. Puasa dihari raya idul fitri, adalah hari pertama di bulan syawal. 

2. Puasa dihari raya idul adha, adalah hari kesepuluh dibulan dzul hijjah.

3. Puasa dihari-hari tasyriq, adalah hari pada tgl 11, 12, 13 di bulan dzul hijjah.

Maka haram berpuasa dihari tersebut, walaupuu terhadap orang yang melaksanakan haji tamattu' yang tidak menemukan hewan sembelihan kurban (Al-hadyu), menurut pendapat yang muktamad, akan tetapi Imam Nawawi memilih pendapat membolehkan bagi orang yang tidak menemukan Al-hadyu atau tidak menemukan untuk membayar kaffarah.


4. Puasa separuh terakhir dibulan sya'ban, yaitu pada Tanggal  16, 17, 18 sampai akhir bulan sya'ban. 


5. Puasa di hari syak (hari ragu) yaitu hari Tanggal

 30 dibulan sya'ban jika ada orang berkata bahwa ia telah melihat bulan, namun muncul keraguan terhadap apa yang telah di katakan nya itu, atau kesaksian orang yang tidak diterima persaksian nya, seperti satu orang perempuan atau anak kecil. 


Permasalahan : 


Kapan boleh berpuasa di hari-hari syak (hari ragu) atau di separuh akhir dibulan sya'ban?


Boleh berpuasa pada hari-hari tersebut pada tiga keadaan. 


1. Jika puasa tersebut adalah puasa wajib, seperti puasa qadha' atau puasa membayar kaffarah atau nazar. 


2. Jika puasa tersebut adalah puasa sunnah yang menjadi kebiasaan-nya, seperti puasa hari isnin dan khamis, dan cukup dianggap sebagai kebiasaan jika sudah pernah dilakukannya walau hanya satu kali.

Diambil dari berbagai sumber. 

Wallohu'alumu Bisowab

 

3. Jika puasa separuh terakhir sya'ban tersebut disambung dengan puasa sebelumnya, seperti ia berpuasa pada tgl 15, maka boleh meneruskan puasanya pada hari berikutnya yaitu pada hari tgl 16 dan seterusnya tgl 17 sampai pada ujung bulan. Dan apabila puasanya terputus satu hari maka haram melanjutkan puasanya di sisa-sisa hari di bulan tersebut.```


Sabtu, 17 April 2021

2 Amal Paling Utama Disisi Alloh SWT

Al-Qur’an memerintahkan umat Islam untuk berpegang pada tali Allah dan tali manusia. Al-Qur’an meminta agar kita tidak bercerai-berai. Perintah ini bukan perintah main-main. Perintah Al-Qur’an tersebut menjadi perintah luar biasa. Rasulullah SAW mengatakan bahwa keimanan kepada Allah dan kebaikan kepada orang lain menjadi kunci ibadah secara keseluruhan. Keduanya merupakan amalan utama dan dapat mendatangkan ridha Allah SWT. 

خصلتان لا شيء أفضل منهما الإيمان بالله والنفع بالمسلمين 

Artinya, “Dua hal di mana tidak ada yang lebih utama dari keduanya, yaitu beriman kepada Allah dan bermanfaat kepada umat Islam,” (Lihat Syekh Nawawi Banten, Nashaihul Ibad, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa tahun], halaman 4). Oleh karena itu, niat seseorang di pagi hari bahkan juga sangat penting. Niat pagi-pagi seseorang mendapatkan penilaian istimewa dari Allah SWT. Dalam hadits berikut ini, Rasulullah menjelaskan ganjaran mereka yang niat berbuat zalim dan mereka yang berniat membela orang yang terzalimi. 

من أصبح لا ينوي الظلم على أحد غفر له ما جنى ومن أصبح ينوى نصرة المظلوم وقضاء حاجة المسلم كانت له كأجر حجة مبرورة 

Artinya, “Siapa saja berpagi hari tanpa berniat zalim, niscaya diampuni baginya dosa yang telah dikerjakan. Siapa saja yang berpagi hari denga berniat membela orang terzalimi dan memenuhi hajat umat Islam, niscaya ia beroleh pahala sebesar pahala haji mabrur,” (Lihat Syekh Nawawi Banten, Nashaihul Ibad: 4). Sebaliknya, Allah sangat mencintai hamba-Nya yang bermanfaat bagi orang lain baik hartanya maupun jiwa dan raganya. Sesuatu yang membahagiakan, menghilangkan rasa lapar, membuka jalan atas kesulitan, atau membayarkan hutang orang lain merupakan ibadah paling utama di sisi Allah sebagaimana hadits Rasulullah berikut ini. 

أحب العباد إلى الله تعالى أنفع الناس للناس وأفضل الأعمال إدخال السرور على قلب المؤمن يطرد عنه جوعا أو يكشف عنه كربا أو يقضي له دينا. 

Artinya, “Hamba yang paling disukai Allah adalah orang yang paling bermanfaat kepada orang lain. Sementara amal yang paling utama adalah memasukkan kebahagiaan di hati orang yang beriman yang menolak rasa lapar, membuka jalan atas kesulitannya, atau membayarkan utangnya,” (Lihat Syekh Nawawi Banten, Nashaihul Ibad: 4). Adapun berikut ini adalah peringatan Rasulullah SAW agar umat Islam menjauhi kemusyrikan terhadap Allah dan kezaliman terhadap orang lain. Kedua hal ini merupakan perbuatan terkeji. Keduanya sangat dibenci oleh Allah sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang dikutip dalam Kitab Nashaihul Ibad berikut ini: 

وخصلتان لا شيء أخبث منهما الشرك بالله والضر بالمسلمين 

Artinya, “Dua hal di mana tidak ada yang lebih keji dari keduanya, yaitu menyekutukan Allah dan memudharatkan umat Islam” (Lihat Syekh Nawawi Banten, Nashaihul Ibad: 4). Dengan kata lain, kalau tidak dapat berbuat baik terhadap orang lain, sekurang-kurangnya kita tidak berbuat sesuatu yang membahayakan mereka atau berbuat zalim terhadap mereka. Wallahu a‘lam. 

Senin, 12 April 2021

PUASA TANPA MANDI WAJIB

Ketika orang junub di malam hari ramadhan, baik karena mimpi basah maupun karena hubungan badan, atau karena onani, kemudia belum madi hingga masuk subuh, apakah puasanya sah. Kasus yang sering terjadi, mereka junub di malam hari dan ketiduran, kemudian bangun sudah masuk subuh.


Karena ketidak tahuannya, ada sebagian orang yang enggan puasa karena belum mandi junub ketika masuk subuh. Yang lebih parah lagi, ada yang tidak shalat subuh karena melanjutkan tidur hingga pagi hari. Padahal semua tindakan ini, meninggalkan shalat atau tidak puasa tanpa alasan, adalah dosa sangat besar. Sementara, belum mandi ketika masuk waktu subuh, BUKAN alasan yang membolehkan seseorang meninggalkan puasa. Dan meninggalkanL puasa tanpa asalan yang benar mendapatkan acaman sangat keras, sebagaimana keterangan di: Hukum Membatalkan Puasa Tanpa Alasan


Belum Mandi Ketika masuk Waktu Subuh


Bukanlah syarat sah berpuasa, seseorang harus suci dari hadats besar atau kecil. Ini berbeda dengan shalat atau thawaf di ka’bah. Orang yang hendak shalat atau thawaf, harus suci dari hadats besar maupun kecil. Dan jika terjadi hadats di tengah-tengah shalat maka shalatnya batal. Lain halnya dengan puasa, suci dari hadats bukanlah syarat sah puasa. Tidak bisa kita bayangkan andaikan puasa harus suci hadi hadats, tentu semua orang yang puasa akan sangat kerepotan. Karena mereka tidak boleh kentut atau buang air selama berpuasa.


Oleh karena itu, orang yang junub dan belum mandi hingga subuh, tidak perlu khawatir, karena semacam ini tidaklah mempengaruhi puasanya. Dalil pokok masalah ini adalah hadis dari Aisyah dan Ummu Salamah radhiallahu ‘anhuma; mereka menceritakan,


كَانَ يُدْرِكُهُ الْفَجْرُ وَهُوَ جُنُبٌ مِنْ أَهْلِهِ ، ثُمَّ يَغْتَسِلُ وَيَصُومُ


“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki waktu subuh, sementara beliau sedang junub karena berhubungan dengan istrinya. Kemudian, beliau mandi dan berpuasa.” (HR. Bukhari 1926 dan Turmudzi 779).


At-Tumudzi setelah menyebutkan hadis ini, beliau mengatakan,


وَالعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ أَكْثَرِ أَهْلِ العِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَغَيْرِهِمْ، وَهُوَ قَوْلُ سُفْيَانَ، وَالشَّافِعِيِّ، وَأَحْمَدَ، وَإِسْحَاقَ


Inilah yang dipahami oleh mayoritas ulama di kalangan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan yang lainnya. Dan ini merupakan pendapat Sufyan At-Tsauri, As-Syafi’i, Ahmad, dan Ishaq bin Rahuyah. (Sunan At-Turmudzi, 3/140).


Bolehkah Sahur dalam Kondisi Junub?


Ketika ada orang junub bangun tidur di penghujung malam, dia berada dalam keadaan harus memilih antara mandi dan sahur, apa yang harus didahulukan?


Dari penjelasan di atas, kita punya kesimpulan bahwa mandi junub tidak harus dilakukan sebelum subuh. Orang boleh mandi junub setelah subuh, dan puasanya tetap sah. Sementara sahur, batas terakhirnya adalah subuh. Seseorang tidak boleh sahur setelah masuk waktu subuh. Dengan menimbang hal ini, seseorang memungkinkan untuk menunda mandi dan tidak mungkin menunda sahur. Karena itu, yang mungkin dia lakukan adalah mendahulukan sahur dan menunda mandi.


Hanya saja, sebelum makan sahur, dianjurkan agar berwudhu terlebih dahulu. Sebagaimana keterangan dari Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau mengatakan,


كان رسول الله صلى الله عليه و سلم إذا كان جنبا فأراد أن يأكل أو ينام توضأ وضوءه للصلاة


“Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berada dalam kondisi junub, kemudian beliau ingin makan atau tidur, beliau berwudhu sebagaimana wudhu ketika hendak shalat.” (H.r. Muslim, 305).


Jika Hendak Shalat Subuh, Mandi Dulu


Perhatikan, jangan sampai kondisi junub ketika puasa membuat anda meninggalkan shalat subuh, disebabkan malas mandi. Karena meninggalkan shalat adalah dosa yang sangat besar. Sebelum shalat, mandi dulu, karena ini syarat sah shalat.


Allah berfirman,


وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا


“Jika kalian dalam keadaan junub, bersucilah..” (QS. Al-Maidah: 6)


Demikian, semoga bermanfaat.


________________

Sabtu, 27 Maret 2021

Rontokan Bulu Kucing, Najiskah?

Dalam fiqih dijelaskan bahwa bagian tubuh yang terpotong dari hewan yang masih hidup, maka status suci dan najisnya persis seperti bangkai dari hewan tersebut. Dalam arti, ketika bangkai dari hewan tersebut dihukumi suci, maka potongan tubuh tersebut dihukumi suci, misalnya potongan tubuh dari ikan dan belalang. Sebaliknya, jika potongan tubuh berasal dari hewan yang bangkainya dihukumi najis, maka potongan tubuh dari hewan tersebut dihukumi najis, seperti pada hewan selain ikan dan belalang. Ketentuan hukum demikian berdasarkan salah satu hadits :  

 مَا قُطِعَ مِنْ حَيٍّ فَهُوَ مَيِّتٌ  

 “Sesuatu yang terpisah dari hewan yang hidup, maka statusnya seperti halnya dalam keadaan (menjadi) bangkai” (HR Hakim).   

Namun ketentuan hukum di atas, dikecualikan ketika bagian tubuh yang terpotong adalah rambut atau bulu dari hewan. Status rambut atau bulu yang terputus dari bagian hewan tidak langsung dihukumi sama seperti bangkai dari hewan tersebut, tapi terdapat perincian: jika bulu yang rontok berasal dari hewan yang halal untuk dimakan maka dihukumi suci. Seperti bulu yang rontok dari ayam, kambing, sapi, dan hewan-hewan lain yang dagingnya halal dikonsumsi. Sedangkan jika bulu yang rontok berasal dari hewan-hewan yang tidak halal dimakan dagingnya maka bulu tersebut dihukumi najis. Seperti bulu yang rontok pada hewan tikus, anjing, keledai, atau hewan-hewan lain yang dagingnya haram dimakan.   Lalu bagaimana dengan bulu kucing yang rontok? Bukankah kucing merupakan salah satu hewan yang haram untuk dimakan?  Dalam hal ini, para ulama tetap mengkategorikan bulu yang rontok dari kucing  sebagai benda yang najis. Meski demikian, najis tersebut dihukumi ma’fu (ditoleransi, dimaafkan) ketika dalam jumlah sedikit. Ditoleransi pula dalam jumlah banyak, khusus bagi orang-orang yang sering berinteraksi dengan kucing dan sulit menghindari rontokan buli kucing, misal bagi dokter hewan dan petugas salon kucing yang kesehariannya selalu berinteraksi dengan kucing. Ketentuan hukum ini seperti yang teringkas dalam kitab Hasyiyah al-Baijuri ala Ibni Qasim al-Ghazi :    

(وما قطع من) حيوان (حي فهو ميت الا الشعر) اى المقطوع من حيوان مأكول وفى بعض النسخ الا الشعور المنتفع بها فى المفارش والملابس وغيرها (قوله المقطوع من حيوان مأكول) اى كالمعز مالم يكن على قطعة لحم تقصد او على عضو ابين من حيوان مأكول والا فهو نجس تبعا لذلك وخرج بالمأكول غيره كالحمار والهرة فشعره نجس لكن يعفى عن قليله بل وعن كثيره فى حق من ابتلى به كالقصاصين  

 “Sesuatu yang terputus dari hewan yang hidup, maka dihukumi sebagai bangkai, kecuali rambut yang terputus dari hewan yang halal dimakan. Dalam sebagian kitab lainnya tertulis ‘kecuali rambut yang diolah menjadi permadani, pakaian, dan lainnya.’   Rambut yang terputus dari hewan yang halal dimakan ini seperti bulu pada kambing. Kesucian rambut ini selama tidak berada pada potongan daging yang sengaja dipotong, atau berada pada anggota tubuh yang terpotong dari hewan yang halal dimakan. Jika rambut berada dalam dua keadaan tersebut maka dihukumi najis, sebab mengikut pada status anggota tubuh yang terpotong itu. Dikecualikan dengan redaksi ‘hewan yang halal dimakan’ yakni rambut atau bulu hewan yang tidak halal dimakan, seperti keledai dan kucing. Maka bulu dari hewan tersebut dihukumi najis. Namun najis ini dihukumi ma’fu ketika dalam jumlah sedikit, bahkan dalam jumlah banyak bagi orang yang sering dibuat kesulitan dengan bulu tersebut, seperti bagi para tukang pemotong bulu” (Syekh Ibrahim al-Baijuri, Hasyiyah al-Baijuri ala Ibni Qasim al-Ghazi, juz 2, hal. 290).    

Salah satu hal yang ditimbulkan dari status najis ma’fu pada bulu yang rontok dari kucing adalah ketika bulu kucing ini mengenai air yang kurang dari dua kullah, maka air tersebut tidak dihukumi najis dan tetap dapat dibuat untuk bersuci. Hal ini seperti dijelaskan dalam kitab Fath al-Wahab :  

(و لا بملاقاة نجس لا يدركه طرف) أي بصر لقلته كنقطة بول (و) لا بملاقاة (نحو ذلك) كقليل من شعر نجس  

 “Air tidak najis sebab bertemu dengan najis yang tidak dapat dijangkau oleh mata, karena sangat kecilnya najis tersebut, seperti setetes urin. Dan juga dengan bertemu najis yang lain, seperti terkena bulu najis yang sedikit” (Syekh Zakariya al-Anshari, Fath al-Wahab, juz 1, hal. 28)   Sedangkan hal yang menjadi tolak ukur dalam membatasi sedikit banyaknya jumlah bulu yang rontok dari kucing adalah ‘urf (penilaian masyarakat secara umum). Jika orang-orang menyebut bulu kucing yang telah rontok dianggap masih sedikit, seperti dua atau tiga bulu, maka dihukumi najis tersebut ma’fu. Sedangkan ketika mereka menganggap bulu yang rontok banyak, maka dihukumi najis yang tidak dima’fu, kecuali bagi orang-orang yang sulit menghindarinya.   Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa rontokan bulu kucing merupakan najis yang ditoleransi (ma’fu) selama masih dalam jumlah yang sedikit, dan najis yang tidak ditoleransi ketika dalam jumlah banyak, kecuali bagi orang yang sering dibuat kesulitan dengan banyaknya bulu rontok yang bertebaran di sekitarnya.   Oleh sebab itu, memelihara kucing memang diperbolehkan. Namun sebaiknya kita tidak teledor dalam menjaga kesucian pakaian dan tubuh kita karena banyaknya bulu kucing yang rontok dan mengenai pakaian dan tubuh kita. Hal ini dimaksudkan agar segala ibadah yang kita lakukan benar-benar terhindar dari perkara-perkara najis yang disebabkan oleh keteledoran diri kita sendiri. Wallahu a’lam.     

Jumat, 26 Maret 2021

"Jika Tak Ada Yang Berubah Maka Takkan Ada Perubahan"

 


Filosofi paling sakral dari seekor kupu-kupu adalah perubahan yang dikenal dengan sebutan metamorfosis. Berawal dari seekor ulat kemudian menjadikan dirinya berada dalam kesunyian (kepompong), hingga akhirnya menjadi kupu-kupu. Tahapan-tahapan ini harus dilalui tanpa satupun yang dilewati. Ulat tidak akan menjadi kupu-kupu tanpa menjadi kepompong terlebih dahulu.

Untuk berubah menjadi kupu-kupu indah dengan sayap yang kuat dibutuhkan perjuangan yang tidaklah mudah. Karena perjuangan adalah sesuatu yang kita perlukan dalam hidup kita. Jika Allah SWT membiarkan kita hidup tanpa hambatan perjuangan, itu mungkin justru akan melumpuhkan kita. kita mungkin tidak sekuat yang semestinya yang dibutuhkan untuk menopang cita-cita dan harapan yang kita mintakan.

Beranilah untuk berubah, bulatkan tekad untuk berjuang, jangan mengharapkan jalan pintas, karena kepintasan dan ketergesa-gesaan hanya akan membuat kita menjadi manusia-manusia prematur.

Dalam hidup pun kita harusnya mampu meniru ketenangan sang kepompong. Meski lingkungan yang kita tempati kadang keras dan kejam, namun jika kita tetap fokus pada tujuan dan berpegang teguh pada prinsip hidup kita, maka pada akhirnya kita akan keluar dari lingkungan itu sebagai pribadi yang dihargai dan disukai banyak orang.


Jalanilah setiap fase atau episode kehidupan ini dengan jiwa besar, niatkan untuk berubah dan terus menjadi lebih baik seperti kupu-kupu yang menghiasi alam dan menjadi teladan bagi kita manusia, yakin bahwa selalu ada makna dan keindahan dalam setiap moment hidup yang kita lalui.

Kamis, 25 Maret 2021

Jebakan Online : Antara idealis dan kenyataan

Dengan online, kita bisa melakukan banyak hal secara mudah. Mengajar bisa dari mana saja. Dapat hadir dibeberapa tempat secara bersamaan. Dan tentu saja, semuanya akan menjadi lebih efektif dan efisien. Misalnya untuk kegiatan seminar. Jika tidak ada online biaya yg dikeluarkan menjadi sangat mahal, karena harus menyediakan biaya transportasi dan akomodasi. Pokoe mahal banget. Kalo online, biayanya jadi murah banget. Cukup sediakan honor dan platform online, semuanya sudah bisa dilakukan. 


Terlihat mudah, efisien, dan efektif. Apa emang demikian? Jika ukurannya biaya yg dikeluarkan dan waktu yang harus diluangkan, tentu jawabannya benar saja. Tetapi apakah demikian? Jawabannya Yo embuh. Tapi satu yg pasti, dunia online telah menyebabkan munculnya generasi statis. Tidak bergerak, karena semuanya selesai hanya dengan duduk di kursi, menatap layar monitor, dan menggerakkan jemari (mouse). 


Hal lain yang pasti terjadi adalah pengalaman semu. Kita berselancar secara pengetahuan keberbagai belahan dunia, melihat berbagai fenomena, dan memetik berbagai pengetahuan. Tetapi yang didapatkan sebenarnya pengalaman semua belaka, tidak riil. Karena bagaimanpun juga apa yang terekam ujung kamera  adalah bagian parsial dari objek yang mungkin saja sudah mengalami "penyesuaian". artinya bukan yang sebenarnya. Contoh kecilnya, Virtual background pada zoom. 


Selain itu, dengan online ternyata pekerjaan tidak semakin mudah. Banyak pekerjaan yang dilakukan pada saat bersamaan karena asumsinya tidak perlu lagi melakukan "moving" fisik. Saya kadang harus menghidupkan PC, laptop, dan HP agar bisa mengikuti kegiatan secara bersama-sama. Duh beratnya. Selain itu, juga semakin tidak mengenal waktu. Di malam hari pun kita masih harus "bekerja" dengan media datar. 


Semoga selalu sehat dan tetap waras.

BERHUTANG YANG BISA MENYEBABKAN KEBANGKRUTAN


Firman Allah :  


وَلَا تَاۡكُلُوۡٓا اَمۡوَالَـكُمۡ بَيۡنَكُمۡ بِالۡبَاطِلِ وَتُدۡلُوۡا بِهَآ اِلَى الۡحُـکَّامِ لِتَاۡکُلُوۡا فَرِيۡقًا مِّنۡ اَمۡوَالِ النَّاسِ بِالۡاِثۡمِ وَاَنۡـتُمۡ تَعۡلَمُوۡنَ

Dan janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil, dan (janganlah) kamu menyuap dengan harta itu kepada para hakim, dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui. (QS.Al Baqarah : 188)


Keterangan.

Dan janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil seperti dengan cara korupsi, menipu, ataupun merampok, dan jangan pula kamu menyuap dengan harta itu kepada para hakim untuk bisa melegalkan perbuatan jahat kamu dengan maksud agar kamu dapat memakan, menggunakan, memiliki, dan menguasai sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa karena melanggar ketentuan Allah, padahal kamu mengetahui bahwa perbuatan itu diharamkan Allah.

Pada bagian pertama dari ayat ini Allah melarang makan harta orang lain dengan jalan bathil. "Makan" ialah "mempergunakan atau memanfaatkan", sebagaimana biasa dipergunakan dalam bahasa Arab dan bahasa lainnya. Batil ialah cara yang dilakukan tidak menurut hukum yang telah ditentukan Allah

  والله المستعان وعليه التكلان


Selasa, 23 Maret 2021

Bolehkah Mengonsumsi Ikan Beserta Kotorannya?....








Ikan adalah salah satu menu makanan yang banyak disajikan di beberapa rumah makan. Rasanya yang lezat dan segar membuat jenis binatang laut ini digandrungi pecinta kuliner. Ikan yang dikonsumsi beraneka ragam. Ada yang berukuran besar seperti kakap dan gurame. Ada juga yang tergolong kecil seperti ikan teri. Terkadang ikan yang sudah siap santap masih ditemukan kotorannya bisa jadi karena kurang bersih saat mengolahnya atau sulit dibersihkan. Alhasil, kotorannya ikut termakan, terlebih ikan yang berukuran kecil. Pertanyaannya kemudian, bagaimana hukum mengonsumsi ikan beserta kotorannya yang ikut termakan?...... 

Ikan adalah jenis binatang halal, bahkan bangkainya. Rasulullah SAW bersabda tentang laut.

هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ

Artinya,  “Laut adala suci menyucikan airnya. Halal bangkai binatangnya,” (HR Abu Daud dan At-Tirmidzi dan disahihkan olehnya). Meski bangkai ikan dihukumi suci dan halal, menurut pendapat yang kuat dalam madzhab Syafi’i, kotorannya tetap dihukumi najis. Berkaitan dengan hukum mengonsumsi ikan yang ikut tertelan kotorannya, ulama berbeda pendapat. Menurut pendapat yang dikutip Imam Al-Qamuli dalam kitab Al-Jawahir dari pendapat kalangan Syafi’i tidak diperbolehkan baik ikan besar maupun kecil. Menurut Imam An-Nawawi dan Ar-Rafi’I, diperbolehkan untuk jenis ikan kecil, sebab sulitnya membersihkan kotoran di dalamnya. Syekh Zainuddin Al-Malibari dalam Fathul Mu’in menegaskan. 

 وَنَقَلَ فِي الْجَوَاهِرِ عَنِ الْأَصْحَابِ لَا يَجُوْزُ أَكْلُ سَمَكٍ مُلِحَ وَلَمْ يُنْزَعْ مَا فِيْ جَوْفِهِ أَيْ مِنَ الْمُسْتَقْذَرَاتِ  وَظَاهِرُهُ لَا فَرْقَ بَيْنَ كَبِيْرِهِ وَصَغِيْرِهِ  لَكِنْ ذَكَرَ الشَّيْخَانِ جَوَازَ أَكْلِ الصَّغِيْرِ مَعَ مَا فِيْ جَوْفِهِ لِعُسْرِ تَنْقِيَّةِ مَا فِيْهِ

Artinya, “Al-Qamuli dalam kitab Al-Jawahir mengutip dari kalangan Syafi’i bahwa tidak diperbolehkan mengonsumsi ikan asin yang tidak dibersihkan kotoran-kotoran di dalamnya. Zhahir dari kutipan Al-Qamuli ini tidak membedakan antara ikan besar dan kecil. Tetapi dua guru besar madzhab Syafi’i (Al-Nawawi dan Ar-Rafi’i) menyebutkan, diperbolehkan mengonsumsi ikan kecil beserta kotoran di dalam perutnya, sebab sulitnya membersihkan kotoran tersebut.” 

Bahkan menurut Imam Ar-Ramli, kebolehan mengonsumsi ikan beserta kotorannya juga berlaku untuk ikan yang besar. Syekh Ahmad bin Umar As-Syathiri dalam Syarah Bughyatul Mustarsyidin juz 1, halalaman 337 menegaskan.


 وَقَدِ اتَّفَقَ ابْنَا حَجَرٍ وَزِيَادٍ وَ م ر وَغَيْرُهُمْ عَلَى طَهَارَةِ مَا فِيْ جَوْفِ السَّمَكِ الصَّغِيْرِ مِنَ الدَّمِ وَالرَّوْثِ وَجَوَازِ أَكْلِهِ مَعَهُ وَأَنَّهُ لَا يَنْجُسُ بِهِ الدُّهْنُ بَلْ جَرَى عَلَيْهِ م ر الْكَبِيْرَ أَيْضاً (قوله في الكبير أيضا) وَاعْتَمَدَ ابْنُ حَجَرٍ وَابْنُ زِيَادٍ عَدَمَ الْعَفْوِ عَمَّا فِيْ جَوْفِهِ مِنَ الرَّوْثِ لِعَدَمِ الْمَشَقَّةِ فِي إِخْرَاجِهِ إِذَا كَانَ كَبِيْراً. 


Artinya, “Ibnu Hajar, Ibnu Ziyad dan Ar-Ramli sepakat sucinya (dalam arti ma’fu) darah dan kotoran ikan kecil dan diperbolehkan mengonsumsi ikan tersebut beserta darah dan kotorannya serta tidak dapat menajiskan minyak. Bahkan Ar-Ramli memberlakukan hukum tersebut untuk ikan besar juga. Sementara Ibnu hajar dan Ibnu Ziyad tidak menghukumi ma’fu kotoran ikan besar, sebab tidak ada masyaqqah (keberatan) dalam membersihkannya”. Dari paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa mengonsumsi ikan beserta kotorannya diperbolehkan menurut sebagian ulama. Tetapi bila masih memungkinkan membersihkan kotoran ikan saat mengolahnya (Jawa : Mincati), maka hal tersebut lebih baik. Sebab keluar dari perbedaan ulama hukumnya sunah, terlebih menjaga kebersihan makanan juga merupakan perkara yang dianjurkan agama. Wallahu a‘lam.

Jumat, 19 Maret 2021

FADILAH WULAN SYA'BAN

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


اَلْحَمْدُ للهِ، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِى أَمَرَ عِبَادَهُ باِلطَّاعَاتِ وَالْعِبَادَاتِ* وَزَجَرَهُمْ عَنِ السَّيِّئَاتِ وَالْمَنْهِيَّاتِ * أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَشْكُرُهُ عَلَى مَوَاهِبِهِ الْعِظَامِ وَالْخَيْرَاتِ* أَشِهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ رَبُّ الْأَرَاضِيْنَ وَالسَّمَاوَاتِ* وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُؤَيَّدُ بِأَفْضَلِ الْاَيَاتِ وَالْمُعْجِزَاتِ * اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْمَخْلُوقَاتِ * صَلَاةً تُنْجِيْنَابِهَا مِنْ جَمِيْعِ الْأَهْوَالِ وَالْأَفَاتِ * وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ مَا تَعَاقَبَتِ الْأَوْقَاتِ وَالسَّاعَاتِ * أَمَّا بَعْدُ فَيَاعِبَادَ اللهِ أَوْصِيْكُمْ وَإيَايَ بِتَقْوَى اللهِ وَافْعَلُوْا الْخَيْرَاتِ وَاجْتَنِبُوْا عَنِ السَّيِّئَاتِ * وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمُعِ وَالْجَمَاعَاتِ* وَقَدْ قاَلَ اللهُ تَعَالَى فِى كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ : أَعُوْذُ باِللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ : قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَ، الَّذِيْنَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُوْنَ *


*Para sederek Kaum Muslimin ingkang minulya,*


         Mangga tansah samiya netepi taqwa lan ta’at dateng ngarsa Dalem Allah, kanti nindakaken dawuh lan printahipun, saha nilar lan nebihi sedaya awisanipun, ing pangajab mugi kita tansah kaparingan kabekjan gesang ing ngalam dunya punika, ngantos dumugi ing ngalam akhirat. Amiin.

          

*Para sederek Kaum Muslimin ingkang Minulya,*


         Wekdal punika kita sampun lumebet wonten ing wulan Sya’ban, kita mestani wulan Ruwah, kalebet wulan mulya menggah kita ummat Islam. Pramila kita samiya mulyakaken lan ngegungaken wulan punika kanti nambahi ta’at kita dateng Allah saha nilar lampah ma’shiyat. Nderek dawuh dalem Kanjeng Nabi Muhammad Sallahu ‘alaihi wassalam:


مَنْ عَظَمَ شَعْبَاَنَ وَاتَّقَى اللهَ تَعَالَى وَعَمِلَ بِطَاعَتِهِ وَأَمْسَكَ عَنِ الْمَعْصِيَّةِ غَفَرَاللهُ تَعَلَى ذُنُوْبَهُ وَأَمَنَهُ مِنْ كُلِّ مَا يَكُوْنُ فِى تِلْكَ السَّنَةِ مِنَ الْبَلَايَا وَالْأَمْرَاضِ كُلِّهَا


_*"Sapa wonge mulyaake wulan Sya’ban kelawan taqwa marang Allah, lan nindakake ta’at marang Allah, lan uga nyegah saka penggawe ma’shiyat, mangka Gusti Allah bakal ngapura kabeh dosane, lan Allah bakal nylametake wong mau ing sak jerone tahun kuwi sangka sekabehane panca baya lan sekabehane penyakit”.*_


Pramila ing mangsa punika kita ingkang tasih sanget prihatos awit mushibah ingkang dereng nilaraken dateng kita, Kanti nindakaken amal ibadah ingkang saget nyekataken kita dateng Allah, saha nilaraken pendamel duraka lan ma’shiyat amrih wilujeng saking bendunipun Pangeran Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jumbuh ugi kaliyan dawuhipun Allah wonten ing Al Qur’an:


مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيْنَهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَا نُوْا يَعْمَلُوْنَ


_*“Sing sapa wonge nindakake amal kebecikan, lanang utawa wadon ing mangka deweke iman, mangka Ingsun bakal maringi marang deweke panguripan kang becik, lan Ingsun bakal paring piwales marang deweke kelawan kang luwih becik katimbang kang ditindakake”*_ (QS. An Nahl: 97).


*Para sederek kaum Muslimin ingkang minulya,*


         Mulyakaken wulan Sya’ban punika mboten wonten ingkang langkung sae ngungkuli amal shaleh, langkung langkung ibadah shalat fardlu kita, samiya dipun gatosaken ampun ngantos dipun lirwaaken. Jalaran kamulyanipun wulan punika sambet kaliyan kwajiban shalat fardlu. Kanti tansah migatosaken dateng tata cara, syarat rukun lan purun ngopeni dateng sunnahipun langkung langkung wekdalipun. Menawi shalat sampun jejeg, Allah tentu bade nuhoni paring piwales saha ngicalaken raos ajrih lan kuwatos ingkang tansah ngebaki manahipun tiyang ing mangsa punika. Kados dawuhipun :


إِنَّ الَّذِيْنَ اَمَنُوْا وَعَمِلُوْا الصَّالِحَاتِ وَأَقَامُوْا الصَّلَاةَ وَاَتُوْ الزَّ كَاَةَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَاخَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ


_*“Sejatine wong kang pada iman lan pada ngamal shalih, lan pada njejegake shalat, lan pada aweh zakat, tumrap wong wong mau ganjaran ing ngarsane Pangerane, lan ora ana rasa kuwatir tumrap wong wong mau, lan uga wong wong mau ora bakal pada susah”.*_


Mugi mugi Allah maringana pitedah lan pitulung dateng kita sedaya, Amin.


باَرَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْاَنِ الْكَرِيْمِ * وَنَفَعَنِي وَإِيَاكُمْ باِلْاَيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ * إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمِ  * وَقَلَ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ  وَأِنْتَ خَيْرُ الرَّحِمِيْنَ

Rabu, 10 Maret 2021

ISRA' MI'RAJ NABI MUHAMMAD SAW


Di tengah perjalanan menuju Masjid Baitul Maqdis (yang kemudian kita kenal dengan peristiwa isra’), Nabi Muhammad SAW yang saat itu sedang mengendarai Bouraq beserta Malaikat Jibril dan Mikail berhenti di suatu tempat yang dipenuhi pohon kurma (dzatu nakhlah). Setelah Bouraq berhenti dengan sempurna, Malaikat Jibril berkata kepada Nabi: “Wahai Muhammad, turunlah di sini dan sholatlah”. Setelah Nabi Muhammad SAW selesai mengerjakan sholat, kemudian Jibril berkata: “Tahukah Kamu (Muhammad) di mana Kamu mengerjakan sholat?”, “Tidak”, jawab Nabi. Lalu  Jibril berkata: “Kamu melaksanakan sholat di atas tanah yang bernama Thoybah (Nama lain dari kota Madinah) dan di sini nanti Kamu akan berhijrah”.


*Tanah Madyan*

Sesaat kemudian rombongan yang terdiri dari Nabi Muhammad SAW, Malaikat Jibril dan Mikail berangkat kembali. Dengan secepat kilat, sang Bouraq melangkahkan kakinya sejauh pandangan matanya. Tidak berselang lama, tiba-tiba Malaikat Jibril berseru: “berhentilah (wahai Bouraq), dan turunlah Kamu (Muhammad). Kerjakan sholat di tempat ini!”. Setelah Nabi Muhammad SAW selesai mengerjakan sholat dan kembali ke atas punggung Bouroq, Malaikat Jibril memberitahukan bahwa Nabi Muhammad SAW telah sholat di atas tanah Madyan, tepat di sisi pohon dimana dahulu Musa pernah bernaung di bawahnya dan beristirahat ketika dikejar-kejar oleh tentara Fira’un.


*Lembah Thursina’*

Dalam perjalanan selanjutnya, Nabi Muhammad SAW kemudian turun di lembah Thursina’, sebuah lembah yang berada di tanah Syam, tempat (dahulu) Nabi Musa ‘Alaihissalam pernah berbicara langsung dengan Allah SWT (kaliimullah). Nabi Muhammad SAW sholat di tempat itu pula.


*Betlehem (Baitul Maqdis)*

Ketika rombongan sampai di suatu daerah yang tampak di sana istana-istana Syam, Nabi Muhammad SAW diperintahkan turun (oleh Malaikat Jibril) dan mengerjakan sholat pula di sana. Kemudian Jibril memberitahukan kepada Nabi dengan berkata: “Kamu telah sholat di Bait Lahm (Betlehem, Baitul Maqdis), tempat dilahirkannya Nabi Isa bin Maryam”.


Turunnya Habibana Muhammad SAW (dari punggung Bouraq) di “beberapa tempat terberkati” dan disuruh oleh Malaikat Jibril mengerjakan sholat di atasnya menunjukkan beberapa hal :


Adanya hubungan (sejarah) yang sangat erat antara tanah tersebut dengan agama Islam dan para Nabinya.

Begitu terangnya barokah tanah tersebut pada zaman panji dan peradaban Islam berkembang

Agama Islam adalah risalah (ajaran yang dibawa para Rasul) yang sangat memelihara risalah kenabian sebelumnya dan (Nabi Muhammad SAW) akan mengakhirinya pula.

Sebuah ajaran untuk merawat semua peninggalan agama yang terhubung dengan beberapa peristiwa besar yang pernah terjadi, kejadian yang dianggap mulia, dan peringatan atas keutamaan yang pernah terjadi sebelumnya.

Ajaran ini didasarkan atas syukur kepada sang Khaliq atas segala nikmat dan anugrah yang telah diberikan, dengan cara menjaga kontinuitas untuk tetap beribadah, berdo’a, berdzikir, serta bertafakkur, sehingga manusia yang hidup setelahnya dapat mengambil manfaat dan kebaikan (atas beberapa tempat yang terberkati).





Respon Cepat Penyuluh Agama KUA Mrebet Terjun Langsung Pantau Kondisi Korban Banjir Bandang Sangkanayu

  MREBET – Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Mrebet menunjukkan kepeduliannya terhadap warga terdampak bencana alam dengan ikut berpartis...